Beberapa Pertanyaan Bagi Ummat Kristen Sekitar Salib Dan Penebusan Dosa


Beberapa Pertanyaan Bagi Ummat Kristen Sekitar Salib Dan Penebusan Dosa

 

   Dalam Islam bila seorang manusia berdosa maka dialah yang bertanggungjawab atas dosanya , tidak dibebankan kepada orang lain , dalam alqur'an disebutkan :

{و لا تزر وازرة وزر أخرى و إن تدع مثقلة إلى حملها لا يحمل منه شيء و لو كان ذا قربى} [فاطر: 18)

"Dan Orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil (orang lain ) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu ) kaum kerabatnya" (Qs Fathir : 18)

Maka wajib atas orang yang berdosa meminta ampun dan bertaubat kepada Allah Ta'ala, dan Allah Ta'ala telah menjanjikan ampunan kepadanya bila ia melakukan demikian , dalam Alqur'an Allah berfirman :

{و إني لغفار لمن تاب و آمن وعمل صالحًا ثم اهتدى} [طه: 82]

Artinya : Sungguh aku mengampuni bagi siapa yang bertaubat dan beriman dan beramal shalih kemudian tetap dijalan yang benar (Qs Thaha : 82)

Seperti apa yang terjadi pada bapaknya manusia ini (Adam alaihissalam )ketika menyelisihi Rabbnya , Ia makan dari buah pohon tersebut , lalu iapun bertaubat maka Allahpun menerima taubatnya, sebagaimana dalam Alqur'an Allah Ta'ala berfirman :

{و عصى أدم ربه فغوى . ثم اجتباه ربه فتاب عليه وهدى} [طه: 121 – 122]

Artinya : "Dan durhakalah Adam kepada Rabbnya dan sesatlah ia . kemudian Tuhannya memilihnya , maka DIA menerima taubatnya dan memberinya petunjuk (Qs Thaha 121-122)

Maka tidak tersisa lagi dosanya tidak perlu ada orang yang menebusnya.

Adapun dalam agama Kristen , maka dosa Adam 'alihissalam dan semua dosa orang Kristen sudah ditanggung oleh Nabi Isa alaihissalam beliau mati disalib untuk menebus dosa-dosa orang Kristen.

Karena pentingnya mengetahui kebenaran mengenai akidah dalam masalah salib dan tebusan , kami mengajak kepada semua ummat Kristen untuk berfikir dengan seksama mengenai beberapa pertanyaan berikut untuk menjelaskan perihal yang sesungguhnya , serta menunjukkan jalan lurus yang dapat mengantarkan seorang hamba mendapat keridhaan Allah Ta'ala.

 

Pertanyaan-pertanyaannya adalah :

<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>

 

1- Orang-orang Masihi beranggapan bahwa penyaliban Almasih adalah untuk menegakkan keadilan dan kasih sayang , maka bentuk keadilan dan kasih sayang apakah dalam bentuk penyiksaan dan menyalib orang yang tidak berdosa? mungkin mereka mengatakan : dialah yang telah merelakan itu , kita katakan kepada mereka : orang yang memotong tangannya atau menyiksa badan dan bunuh diri , sungguh ia berdosa walaupun ia menginginkannya.

 

2- Jika Almasih itu adalah anak Allah , maka kemanakah kelembutan seorang bapak , kemanakah kasih sayangnya saat anaknya sendirian menerima berbagai bentuk penyiksaan tanpa dosa , disalib diikat tanggannya dengan tusukan besi paku??

 

3- Apakah gambaran orang-orang masihi tentang Allah – Jalla Fi 'Ula – yang tidak ridha kecuali dengan menurunkan siksaan yang menghinakan kepada manusia , lalu perjanjian dengan Allah yang mereka namai dengan "sang Bapa" mereka sebut dengan : "Allah sang pengasih , Allah sang penyayang , yang penuh luas ampunan dan rahmat-Nya"??

 

4- Siapakah ini yang mengatur Allah subhanahu wata'ala , mengharuskan kepadanya untuk adil dan sayang , carikanlah untuk mencocokkan dua perkara ini , antara keadilan dan sayang , dengan menurunkan anaknya satu-satunya dalam bentuk "nasut" disalib untuk menebus kesalahan Adam??

 

5- Orang-orang Masihi menganggap bahwa semua keturunan Adam harus dihukum karena kesalahan bapak mereka , syari'at manakah yang melibatkan seorang cucu dalam kesalahan nenek moyang , khususnya Alkitab Almuqoddas telah menetapkan bahwa : " tidaklah dibunuh seorang bapak karena kesalahan anak , dan tidaklah dibunuh seorang anak karena kesalahan bapak , maka setiap manusia dibunuh sesuai dengan kesalahannya" tatsniah (16:24) ??

 

6- Bila penyaliban Almasih merupakan bentuk praktik nyata (seperti yang mereka yakini , lalu kenapa orang-orang masihi membenci orang-orang yahudi , menganggap berdosa dan telah melampau batas kepada Almasih??

 

Sesungguhnya Yahudi – khususnya Yahudza AL-askharyuthi- sebagaimana difahami oleh Masihi yang ditempat salib adalah orang yang paling banyak beribadah kepada Allah , karena dengan demikian mereka telah melaksanakan kehendak Allah yang diputuskan dengan menyalib anaknya , maka mereka melaksanakannya untuk menjalankan tugas itu.

 

7- Apakah turunnya anak Allah (sebagaimana keyakinan mereka) dan disalibnya untuk menebus kesalahan manusia merupakan keharusan , tidakkah ada jalan lain untuk mengampuni kesalahan manusia??

 

Apakah yang akan disampaikan oleh orang-orang Masihi untuk menjawab pertanyaan ini , sebagaimana ditunjukkan oleh seorang penulis masihi yaitu pendeta Bulis Sabath saat ia menulis :

 

" tidaklah menyatu ungkapan "sebuah keharusan untuk menyelamatkan manusia , dan tidaklah tergambar demikian bersamaan dengan kekuasaan ilahiah yang sangat kuat ", kemudian penulis ini menyebutkan sebab dipilihnya kalimat untuk menebus kesalahan manusia ia mengatakan : sesungguhnya Allah maha lapang tidak ada kerugian bagiNya dalam perkara penebusan kesalahan manusia dan menyelamatkannya dari kebinasaan akibat kesalahan dan kemaksiatan , ini adalah perkara ilahi , Dia telah menghendaki menjadikan tebusan dengan yang paling berharga dari yang dia miliki karena disitu terdapat kekuatan untuk merealisasikan tujuan dan menuntaskannya dengan cepat "

Sungguh jalan yang paling gampang bagi Allah subhanahu wata'ala – kalau kita menggunakan bahasa seorang pendeta tersebut , yaitu dengan Allah mengatakan : Aku memaafkanmu wahai adam , inilah yang dikatakan Alqur'an :

{ فَتَلَقَّى آدَمُ مِنْ رَبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ }

"Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya , maka Allah menerima taubatnya , sesungguhnya Allah Maha penerima Taubat , lagi Maha penyayang (QS.Albaqarah : 37)

Dan kita sorak didepan wajah penulis ini mengatakan : bukanlah perkara yang bijak sedikitpun melakukan penebusan dengan satu dinar , selama kita bisa menebus dengan tanpa biaya.

 

Jawaban lain dari pertanyaan ini , kita cuplik dari penulis masihi yang lain yaitu BAPA BULIS ALYAFI yang mengatakan :

 

"Tidak diragukan bahwa Almasih dulu bisa saja menebus manusia dan memperbaiki mereka sama bapaknya dengan satu kalimat atau dengan satu sujud atas nama manusia dihadapan bapaknya dilangit , akan tetapi ia menolak dan lebih memilih jalan kesakitan , bukan karena dia sakit merindukan kesakitan atau karena bapaknya senang dengan pemandangan darah , terlebih ini adalah darah anaknya satu-satunya , maka Allah tidaklah bodoh dan zalim akan tetapi tuhan anak telah menghendaki dengan Tuhan bapak untuk memberikan pelajaran dengan sebuah permisalan abadi atas dasar sebuah kecintaan yang kekal selamanya , dan menyebabkan mereka untuk terus dalam penyesalan atas dosa-dosa yang telah mereka perbuat dan mengharuskan mereka agar terus menggantikannya dengan kecintaan kepada Allah."

 

Maka sekali lagi kita sorak dihadapan wajah penulis ini memastikan : bahwa gambaran kesakitan lebih tajam lagi ketika ia menyebutkan kekerasan dan darah , akan tetapi ketika ia mulai menjawab dan memberikan gambaran sebuah penawar dia tergelincir , dia tidak mengatakan kecuali ibara-ibarat baku yang tidak mengandung makna.

 

8- Kita kembali ke sang pendeta Bulis Sabath , kita Tanya dia sebagaimana pertanyaannya : bila kalimat itu sudah menyatu untuk menebus kesalahan yang dahulu , lalu bagaimana dengan perbuatan kesalahan yang terjadi setelah itu? Penulis ini menjawab sebagai berikut :

 

Bila manusia kembali berbuat kesalahan maka dosa ini adalah dosa mereka kerena mereka melupakan cahaya dan berpaling darinya mengikuti kegelapan atas pilihan mereka"

 

Ini artinya bahwa satu kesalahan yang telah terhapus , adapun jutaan dosa-dosa selain itu masih ada , dan manusia akan dihisab atas apa yang mereka perbuat dan sebagian pelanggaran yang mereka lakukan justru lebih keras dari kesalahan ADAM , sungguh sebagian manusia ini ada yang mengingkari keberadaan Allah Ta'ala , yang lain meyerangnya dan menghinakan tentang surga dan nerakanya , lalu kenapa kalimat yang manyatu untuk penebusan satu dosa , dan meninggalkan begitu banyak dosa-dosa yang lainnya yang lebih besar tidak terhitung jumlahnya?!

 

9- Kemanakah keadilan dan rahmat Allah sejak kejadian Adam sampai peristiwa disalibnya Almasih? ini artinya – maha tinggi Allah dari hal ini – terus barada dalam kebingungan antara ADIL dan SAYANG beribu-ribu tahun , sampai sebelum Almasih sejak dua ribu tahun hanya dengan disalib untuk menebus dosa ADAM.

 

10- Semestinya -sebagaimana dalam semua syari'at- sebuah hukuman harus setimpal dengan kesalahan , apakah bisa sempurna timbangan antara dengan disalibnya Almasih seperti ini , dengan dosa kesalahan yang dilakukan Adam?

 

11- Ini kesalahan Adam yang tidak lebih dari – dia memakan dari pohon yang terlarang – dan Allah telah menghukumnya- menurut kesepakan Almasihi dan muslim- dengan dikeluarkan dari surga, tidak diragukan lagi bahwa ini adalah hukuman yang sudah setimpal , hukuman diasingkan dari surga dan keluar menuju tempat yang penuh dengan derita dan penuh perjuangan bukanlah perkara yang ringan , hukuman ini telah dipilih oleh Allah sendiri , dan Allah tentunya bisa melakukan kepada Adam lebih dari itu , akan tetapi Allah cukupkan dengan itu , lalu apakah pantas DIA terus menyimpan keburukan itu murka beribu-ribu tahun sampai pada waktu hari disalibnya Almasih ?!

 

12- Kehidupan manusia telah melewati peristiwa demi peristiwa sejak masa Nabi Adam sampai zaman Nabi Isa Alaihimassalam, dan telah binasa para penyembah selain Allah , khususnya pada zaman Nabi Nuh tidak ada yang selamat kecuali mereka yang beriman dan mengikuti Nabi Nuh naik kapal , merekalah yang telah diridhai Allah , lalu bagaimanakah (Allah) masih menyimpan kebencian , dengan mengorbankan Nabi Isa, untuk menebus dosa manusia.

 

13- Seorang penulis masihi yang telah memeluk islam – Abdul Ahad Dawud – mengkritik kisah penebusan dosa kesalahan , dengan kritikan yang sempurna ia mengatakan :"yang mengherankan keyakinan orang-orang masihi (Kristen) bahwa alasan "allahuti" ini , yaitu kesalahan Adam dan kemurkaan Allah terhadap jenis manusia ini karena sebabnya menjadi terus tersembunyi tidak diketahui dari semua para nabi terdahulu dan tidak terbongkar oleh gereja terkecuali setelah kejadian salib"

 

14- Penulis ini –Abdul Ahad Dawud – juga mengatakan : bahwa yang menyebabkan ia meninggalkan agama masihi , yaitu karena masalah ini yang jelas kebatilannya , ketika gereja menyuruhnya dengan ketetapan yang tidak bisa diterima akal yaitu :

 

A- Jenis manusia itu sangat berdosa dan berhaq menerima kebinasaan selamanya.

B- Allah tidak akan membebaskan mereka para pendosa dari neraka abadi yang berhak atas mereka dengan tanpa penolong.

C- Penolong tersebut haruslah dari kalangan Tuhan yang sempurna atau manusia yang sempurna.

 

Sampai penulis ini berdebat panjang dengan orang-orang masehi karena ketetapan-ketetapan ini, mereka berpendapat bahwasanya yang memberi syafa'at itu harus manusia yang bersih dari kesalahan Adam , lalu mereka berpendapat : karena sebab itu Nabi Isa dilahirkan dengan tanpa bapak agar dia selamat dari segala kesalahan dari bapaknya.

Lalu penulis bertanya kepadanya : tidakkah Isa juga akan mengambil kesalahan dari jalan ibunya?

Mereka menjawab : Allah telah mensucikan Maryam dari kesalahan, sebelum janin sang anak masuk ke rahimnya.

Kembali penulis bertanya : jika Allah bisa mensucikan seperti ini dengan cara yang sangat gampang dan mudah saat mensucikan sebagian makhluqnya , kenapa IA tidak mensucikan makhluq-mahkluqnya dari kesalahan dengan cara yang gampang dan mudah seperti itu juga , tanpa harus menurunkan anaknya , melalui kelahiran dan disalib.

 

Kita tambahkan juga bantahan Abdul Ahad Dawud , bahwa perkataan mereka yang menyatakan bahwasanya yang memberikan syafa'at haruslah seseorang yang bersih dari kesalahan Adam dengan melazimkan dilahirkannya Nabi Isa tanpa bapak , atau Allah mensucikan Maryam sebelum masuknya Nabi Isa ke rahim Maryam , ini membutuhkan jalan panjang , justru yang lebih mudah adalah dengan menurunkan Anak Allah langsung dalam rupa manusia tanpa melewati masuk rahim dan kelahiran.

Kita tambahkan juga , bahwa pandangan orang masihi ini berbeda dengan pandangan masihi yang lainnya , yaitu bahwa Anak Allah masuk kerahim Maryam untuk mengambil rupa manusia agar pada zhahirnya ia menanggung sebagian kesalahan Adam yang Nampak sebagai anak Allah yang seakan-akan ia adalah anak diantara anak-anak Allah, lalu disaliblah anak Allah sebagai penebus dari kesalahan-kesalahan manusia yang sudah menjadi bagian dari salah seorang dari mereka.

 

Pertanyaan terahir dalam masalah ini adalah :

Apakah semua para Nabi, Nuh , Ibrahim , Musa... dalam keadaan kotor karena kesalahan bapak mereka?

Apakah Allah juga murka kepada mereka , lalu bagaimana Allah memilih orang yang dia murkai untuk memberikan petunjuk kepada manusia?!

Pertanyaan-pertanyaan ini kami ajukan kepada orang-orang nashara (Kristen) , semoga mereka mau berusaha menjawabnya.





ترجمة المقال