KEMULIAAN DAN TERPERCAYANYA PARA SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

مترجم : Yusfiani Suhyatin

KEMULIAAN DAN TERPERCAYANYA PARA SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ALAIHI WASALLAM

 

 

   Allah ta'ala menciptakan jin dan manusia untuk beribadah , lalu Allah ta'ala memilih diantara manusia para rasul yang di tugasi untuk mengemban risalah , mereka diberikan wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan syari'at Allah kepada manusia .

{رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا } [النساء: 165]

Artinya : (mereka kami utus ) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan , supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu , dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs Annisa' :165)

Kemudian Allah Ta'ala memilih  Muhammad bin Abdillah  sebagai penutup  para nabi dan rasul  , Allah khususkan beliau dengan kitab yang paling agung yaitu Alqu'an, dan dengan  syariat yang paling sempurna dan paling mudah yaitu islam , merugilah siapa saja yang datang dengan agama selain islam .

{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85]

Artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama islam , maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi (Qs Ali 'imran :85).

Rasulullah menguatkan hukuman ini dalam sabdanya :

 

(( والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي ، ولا نصراني ، ثم يموت ولم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار )) رواه مسلم ، حديث رقم 153 .

 

Artinya : Demi yang jiwa Muhammad berada ditangan-NYA , tidaklah seorang dari ummat ini mendengar tentangku ,baik di kalangan yahudi ataupun nasroni , lalu meninggal dan belum beriman dengan risalahku , terkecuali ia termasuk penduduk neraka .(HR Muslim no.153)

Karena perkara yang sangat penting dan besar ini Allah menetapkan perkara-perkara yang menunjukkan akan hikmah dan keagungan-NYA, diantaranya :

    1- Allah ta'ala menjaga Alqur'an dari pergantian, pengubahan, tambahan dan pengurangan

{إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ} [الحجر: 9]

Artinya : Sungguh kamilah yang menurunkan Ad dzikra( alqur'an) dan kamilah yang  menjaganya (Qs Alhijr : 9)

    2- Allah Taa'la meilih manusia-manusia yang pantas untuk menjadi sahabat Rasulnya shallallahu alaihi wasallam , untuk membawa keutuhan risalah ini kepada semua manusia , karena risalahnya adalah menyeluruh untuk semua manusia , kepada orang arab , ajnabi (bukan arab) , kepada mereka  yang berkulit hitam ataupun yang berkulit putih .

 

{ وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيراً وَنَذِيراً وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ }  (سبأ : 28)

 

Artinya : Dan Kami tidak mengutusmu , kecuali kepada seluruh manusia , sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan , tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.(Qs.Saba': 28)

 

Ibnu Masud semoga Allah meridhainya mengatakan :

" إن الله نظر في قلوب العباد فوجد قلب محمدٍ – صلى الله عليه وسلم - خير قلوب العباد فاصطفاه وبعثه برسالته ، ثم نظر في قلوب العباد بعد قلب محمد فوجد قلوب أصحابه خير قلوب العباد فجعلهم وزراء نبيه يقاتلون عن دينه"

"Allah ta'ala melihat kepada hati hamba-hamba-NYA , Allah mendapati hati Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam yang paling baik , lalu Allah memilihnya dan mengutusnya mengemban risalah , kemudian Allah melihat kepada hati hamba-hambanya setelah hati Muhammad Shallallahu alaihi wasallam , Allah mendapati hati para sahabatnya adalah yang paling baik , maka Allah menjadikan mereka pendamping Nabi-NYa untuk membela dan berperang diatas agama-NYA" (lihat Albidayah Wannihayah 8/6 , dan Hilyatul Auliya' 1/375)

 

Dan cermatilah wahai saudaraku pembaca yang budiman , bagaimana suami dari Fatimah Azzahra , Abu As-sibthaen , bapak dari penghulu para pemuda surga (Hasan dan Husen) menyebutkan sifat para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dengan sifat yang sangat menakjubkan , sebagaimana Abu Arokah meriwayatkan darinya mengatakan :

“ Aku shalat fajar bersama ‘Ali Radhiyallahu 'anhu , begitu beliau bergeser kearah kanan , beliau berdiam ditempatnya sepertinya ada hal yang berat menimpanya , sampai ketika matahari menerpa lantai masjid seukuran busur panah , beliaupun shalat dua rakaat lalu membalikkan tangannya , dan berkata : Demi Allah aku telah melihat para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , dan tidak aku lihat pada hari ini sedikitpun menyerupai keadaan mereka !! mereka dulu lesu, letih , diantara dua mata mereka seperti lutut-lutut lembu , bermalam dengan ruku dan sujud , membaca kitab Allah , bergantian antara kening dan kakinya (banyak shalatnya) , bila pagi tiba mereka berdzikir kepada Allah , mereka condong seperti condongnya pepohonan pada hari ketika angin bertiup , air mata mereka tak terbendung sampai membasahi baju ,  demi Allah , seakan-akan kaum ini bermalam dalam kelalaian “. (lihat Albidayah wannihayah 8/6 dan Hilyatul auliya' .1/76)

 

   Saudaraku….kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasalam dimulai dengan berdakwah mengajak manusia dimakkah untuk memeluk islam , lalu sebagian kecil dari mereka beriman dan percaya dengan kerasulannya , mereka membuktikan kekuatan keimanan mereka ini pada hari-hari yang mereka lalui dengan penuh kesulitan , bertambah hari bertambah pula cara orang-orang musyrikin menimpakan hukuman dan siksaan , setiap hari mereka menghembuskan makar kepada manusia yang menyakitkan Rasulullah dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum ajma'in , akan tetapi mereka tetap bersabar dan hanya mengharap kepada Allah , bahkan merekapun tetap mengajak yang lain kepada islam sampai setiap hari bertambahlah jumlah orang  yang masuk islam , dan semakin kuat dan nampaklah kejujuran iman mereka dengan berhijrah meninggalkan keluarga , istri, harta, dan rumah menuju ke Habasyah dan selanjutnya ke Madinah.

 

Saudaraku ….apakah gerangan yang memompa mereka sampai melakukan semua ini ?!

Apakah karna takut dengan sosok Nabi yang kuat , padahal beliau tidak memiliki pada dirinya sendiri penolong ataupun yang menolong mereka , ataukah karena mereka mengharap harta dan keuntungan duniawi , atau jabatan dan tahta yang akan dibagikan kepada para pengikutnya ?!

 

Jawabannya :  Bukan karena ini dan bukan juga karena itu…..akan tetapi murni karena kejujuran imanlah rahasia ketegaran dan keteguhan mereka .

 

Sesungguhnya ”kemunafikan” yang berarti : “ menampakkan keimanan serta menyembunyikan kekufuran “ belumlah muncul pada periode makkiyyah , karena pada masa itu islam belum memiliki kekuatan yang disegani yang membuat orang akan menampakkan keislamannya karena takut, tidak juga ada harta dan kesenangan duniawi yang menggiurkan sehingga orang-orang tertarik untuk menampakkan keislaman; karenanya ( bisa dipastikan,pent) tidak ada kemunafikan dalam diri para sahabat nabi Muhammad pada periode makkiyyah ini dalam mendakwahkan islam.

Sekarang timbul pertanyaan penting :

Apakah para muhajirin tersebut terpercaya ?!

Dan apa yang seyogyanya kita perbuat untuk agama yang mereka bawa ini?  Apakah kita tolak sampai terbukti kejujuran mereka?

Jawabannya adalah : Seseorang yang beriman tidak pernah ragu bahwasanya al-qur’an adalah firman Allah ta’ala yang mana didalamnya terdapat pujian terhadap mereka yang terdepan masuk islam dan pujian akan keutamaan mereka dibanding sebagian besar para sahabat lainnya.

Allah ta’ala berfirman:

{ وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ }(التوبة : 100)

Artinya : “ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya selama-lamanya,itulah kemenangan yang besar “. (Qs.At-taubah:100).

Dan Allah memuji mereka dalam firman-Nya :

{ إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَاجَرُواْ وَجَاهَدُواْ فِي سَبِيلِ اللّهِ أُوْلَـئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللّهِ وَاللّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ } )البقرة : 218 )

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu menghara,p rahmat Allah, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang “ . (Qs.Al-baqarah : 218).

Begitu juga orang-orang yang mengimani kenabian Muhammad pun mengakui kejujuran mereka , dalam sebuah hadits disebutkan :

(( إن فقراء المهاجرين يسبقون الأغنياء يوم القيامة إلى الجنة بأربعين خريفا)) (مسلم, كتاب الزهد والرقائق (ح / 2979)

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang faqir dari kaum muhajirin mendahului orang-orang kaya pada hari kiamat untuk menuju ke surga selama empat puluh kali musim gugur ( empat puluh tahun ). (HR.Muslim, az-zuhd wa ar-raqaiq (H/2979))

Rekomendasi jaminan surga tentu tidak akan diberikan terkecuali untuk orang-orang yang terpercaya dan orang-orang yang beriman dengan sungguh-sungguh!

Orang yang tidak menerima rekomendasi (Allah) tuhan semesta alam terhadap para muhajirin, serta tidak mengakui kejujuran mereka, maka dengan apalagi mereka akan dapat menerima?!

Dengan apa mereka menjawab kepada orang-orang mukmin atas penolakan mereka terhadap ayat-ayat mulia ini?!

Setelah nabi kita –shallallahu ‘alaihi wa sallam- menetap di Madinah begitu juga para sahabatnya  yang  mulia, mereka datang  bertamu kepada saudara-saudara mereka yaitu kaum anshar yang sangat memuliakan mereka dan menyambut kaum muhajirin dengan sebaik-baiknya , tercatat dengan tinta emas.

Iming-iming dan janji-janji duniawi apakah yang membuat mereka (kaum anshar) bersedia menampung mereka (Nabi dan para sahabatnya); seseorang yang diusir kaumnya sendiri, yang terancam dibunuh, begitu juga dengan para sahabat yang menyertainya?!

Bahkan perjanjian merekapun dilakukan dengan sembunyi-sembunyi disertai rasa ketakutan dengan berbagai resiko. Berikut ada dua catatan penting dari bai’at ‘aqobah :

 

Pertama :

 

   Tampak kepercayaan ‘Abbas bin ‘Abdul mutholib salah satu paman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- akan kesungguhan kaum Anshar saat mereka menghadiri bai’at dan beliau menyebutkan kedudukan keponakannya (Nabi Muhammad) dan apa hak beliau atas mereka, beliau berkata kepada kaum Anshar : “Wahai penduduk khazraj –konon bangsa arab menamakan daerah penduduk anshar itu dengan nama Khazraj, mencakup kabilah Khazraj dan Aus- sebagaimana yang kita ketahui, bahwasanya Muhammad itu termasuk kalangan kita, dan kami telah menghalanginya (untuk masuk) ke kaum kami serta orang yang sependapat dengan kami, beliau berada dalam kesulitan serta  mendapatkan penolakan dari penduduk negerinya, oleh karenanya beliau lebih memilih untuk bergabung bersama kalian,  jika kalian akan menepati janji serta akan membelanya dari orang-orang yang menyelisihinya, maka (perkaranya tergantung) pada kalian dan apa yang kalian janjikan; karena beliau berada dalam kesulitan dan penolakan dari kaum dan negerinya”. Maka kamipun berkata kepadanya : “Kami telah dengar apa yang engkau katakan, maka utarakanlah wahai Rasulullah, dan ambillah keputusan apa yang Engkau dan Tuhan-Mu kehendaki. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun berbicara, Beliau membaca Al-qur’an dan mengajak mereka mengenal Allah serta mengajak mereka ke dalam islam, kemudian berkata : “Aku membai’at kalian untuk membelaku sebagaimana kalian membela istri-istri dan anak-anak kalian”.(As-sirah,Ibnu Hisyam 2/63, dan HR.Ahmad, no: 15804).

Apakah mungkin seorang ‘Abbas tega melepaskan keponakannya kepada orang-orang yang tidak  dia percayai keimanannya dan diragukan kejujurannya?!

 

Kedua :

 

    Telah terakui perkara besar yang akan di emban kaum Anshar pasca pembai’atan mereka kepada Rasulullah –Shallallahu ‘alaihi wa sallam- . Berkata As’ad bin Zurarah  – orang yang paling belia diantara ke-tujuh puluh orang (yang berbai’at)- : “Tenang saja wahai penduduk yatsrib, kita tidaklah mengerahkan pasukan unta kesini kecuali karena kita mengetahui bahwasanya Beliau adalah utusan Allah, dan membawanya keluar sekarang berarti akan menyebabkan perpecahan bangsa arab, dan membunuh orang-orang terbaik kalian, peganglah kuat-kuat pedang kalian, atau bersabarlah akan hal itu dan pahalanya disisi Allah, atau takut terhadap apa yang akan menimpa diri kalian karena masih lemah, maka ungkapkanlah alasan ini niscaya Allah akan menerimanya. Lalu mereka berkata: “Ulurkanlah tanganmu wahai sa’ad, demi Allah kita tidak akan meninggalkan bai’at ini dan tidak akan meremehkannya selamanya.” (HR.Ahmad no: 14469).

Tentunya sikap mereka meninggalkan qabilah , terutama golongan yahudi yang tinggal bersama mereka di Madinah, pasti menimbulkan banyak resiko dan pengusiran.

Karenanya, pada fase Madinah ini benih-benih timbulnya kemunafikan itu belum ada, sebagai saksinya adalah beberapa momen kejadian yang menggambarkan keadaan kaum muslimin pada masa itu : dikatakan kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- : Andaikan Engkau mendatangi Abdullah bin ubay, maka berangkatlah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepadanya dengan menunggangi keledai, dan diikuti kaum muslimin bersamanya sambil berjalan dan keadaan tanahnya (saat itu) lembab. Setelah sampai dan Nabi pun menghadap Abdullah bin Ubay, dia berkata : menjauhlah dariku, aroma keledaimu sangat menggangguku, salah seorang dari Anshar –ada riwayat yang menyebutkan , dia itu adalah Abdullah bin Rawahah semoga Allah meridhainya-  berkata: “Demi Allah, keledai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih wangi aromanya dari pada kamu”, maka marahlah orang-orang kepada Abdullah dan mencacinya, kemudian marah juga masing-masing teman yang dicaci tersebut sehingga terjadilah saling pukul dengan pelapah kurma, dengan tangan, dan sandal:. ( HR.Bukhari, kitab ash-shulh no:2545).

 

Ketika Allah mengizinkan nabi-Nya untuk menetap di Madinah ini dengan jalan :

-         Banyaknya para pemuka dan mayoritas kaum Anshar  memeluk islam.

-         Tampaknya kejayaan islam setelah kaum muslimin memenangkan perang badar.

 

   Maka, sebagian penduduk Madinah (yang belum masuk islam,pent) terpaksa menampakkan keislaman  demi kemaslahatan duniawi , Abdullah bin Ubay bin Salul beserta orang-orang musyrik dan penyembah berhala berkata : Kita dihadapkan pada perkara yang tidak ada pilihan lain, maka merekapun membai’at  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan masuk islam. (HR.Al-Bukhari, kitab: tafsir al-qur’an no:4290).Dari sinilah mulai muncul kemunafikan di Madinah, kemudian terus bertambah jumlah para sahabat setelah fathu makkah (penaklukkan mekkah) dan pada waktu haji wada’ orang-orang masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong, jumlahnya mencapai puluhan ribu.

 

Berdasarkan apa yang sudah disebutkan diatas, bisa dirincikan hal berikut :

 

1-    Bahwasanya (lafazh) sahabat itu bisa bermakna umum & khusus, kalau makna umum mencakup semua yang bertemu dengan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan beriman kepadaNya. Karena itu dikatakan kepada sebagian mereka: ia menemani Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selama setahun, sebulan, se-jam, dan semisalnya. Begitu juga para sahabat berbeda-beda keutamaannya, misalnya: Abdurrahman bin ‘Auf  beserta orang-orang yang pertama-pertama masuk islam bersamanya, mereka menafkahkan hartanya sebelum fathul hudaibiyyah (penaklukan mekah) lebih tinggi kedudukannya daripada Khalid bin Walid dan orang-orang yang masuk islam bersamanya setelah hudaibiyyah, walaupun mereka juga menafkahkan hartanya & berperang. Allah ta’ala berfirman :

‏{‏ لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُوْلَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِّنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى ‏}‏ ‏[‏الحديد‏:‏ 10‏]

Artinya : “ tidak sama diantara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (mekah), mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang setelah itu, Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka ( balasan) yang lebih baik”.(Q.s:Al-Hadid:10).

Maka para sahabat yang menemani Rasulullah dari sebelum penaklukan mekah mereka pantas mendapatkan keutamaan daripada sahabat yang menemaninya setelah penaklukan mekah, Rasulullah berkata kepada Khalid :   ‏(‏لا تسبوا أصحابي‏) “ janganlah kalian mencela para sahabatku”. Karena mereka telah menemani Rasulullah sebelum Khalid & orang-orang yang bersamanya.

Contoh lain supaya lebih jelas tentang keutamaan ini adalah yang menyebutkan tentang keutamaan Abu bakar Ash-shiddiq –semoga Allah meridhainya- dibanding semua sahabat yang lain –semoga Allah meridhai mereka- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

( إنه ليس من الناس أحد أمن علي في نفسه وماله من أبي بكر بن أبي قحافة، ولو كنت متخذا من الناس خليلا لاتخذت أبا بكر خليلا، ولكن خلة الإسلام أفضل، سدوا عني كل خوخة في هذا المسجد، غير خوخة أبي بكر)   (رواه البخاري:455).

Artinya:” sungguh tidak ada satupun manusia yang memberikan jaminan kepadaku dengan jiwa dan hartanya (melebihi) Abu bakar bin Abu Quhafah, sekiranya aku (diperintahkan) mengambil seorang kekasih  dari manusia niscaya akan aku pilih Abu bakar, akan tetapi persaudaraan islam lebih utama., tutuplah dariku semua pintu di masjid ini selain pintu Abu bakar”. (HR: Bukhari : 455)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

( إن الله بعثني إليكم فقلتم :كذبت، وقال أبو بكر : صدق. وواساني بنفسه وماله، فهل أنتم تاركوا لي صاحبي ؟! )‏ ) رواه البخاري :3461 ))

Artinya: “Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, maka kalian berkata : kamu dusta, sedangkan Abu bakar berkata : kamu benar, dan beliau mendukungku dengan jiwa dan hartanya,lalu apakah kalian tinggalkan sahabatku untukku?!” ( HR. Bukhari : 3461).

Disini Rasulullah menyebutnya dengan kata “shuhbah” (sahabat/teman) sebagaimana disebutkan dalam al-qur’an Allah berfirman :

‏{ ‏ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لاَ تَحْزَنْ إِنَّ اللّهَ مَعَنَا ‏}‏ ‏[‏التوبة‏:‏ 40‏]‏

Artinya : “(Abu bakar) salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada di dalam gua, diwaktu dia berkata kepada temannya : “janganlah kamu berduka cita sesungguhnya Allah beserta kita”.” (QS.At-taubah:40)

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan keutamaan umar bin Khathab-semoga Allah meridhainya-, Beliau bersabda :

) جعل اللّه الحقَّ على لسان عمر وقلبه ) (رواه أبو داود:2961)

Artinya :”Allah telah menjadikan kebenaran atas lisan dan hatinya umar ”. (HR. Abu daud :2961).

Begitu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Umar bin Khathab :

( والذي نفسي بيده! ما لقيك الشيطان قط سالكا فجا إلا سلك فجا غير فجك ) (رواه البخاري:2396)

Artinya : “Demi (Allah) yang jiwaku berada ditangan-Nya, tidaklah satu syaithan pun yang bertemu denganmu melewati suatu jalan kecuali dia melewati jalan selain jalan yang kamu lewati”. (HR.Al=bukhari:2396)

Baik Umar ataupun Abu bakar sama sekali tidak pernah menggunakan kata “Munafik” tehadap orang muslim, dan tidak dipergunakan juga oleh kerabat-kerabat mereka.(Fatwa Syaikh islam Ibnu Taimiyyah bab : al-khilafah wa al-mulk).

Para sahabat pun telah mengakui berbeda-bedanya tingkatan keutamaan diantara mereka,di riwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, pada musnad Ali –semoga Allah meridhainya- :

" أن وهب السوائي قال:خطبنا علي - رضي الله عنه - فقال: " من خير هذه الأمة بعد نبيها ؟ فقلت: أنت يا أمير المؤمنين . قال: لا ! خير هذه الأمة بعد نبيها : أبو بكر ، ثم عمر رضي الله عنه ، وما نبعد أن السكينة تنطق على لسان عمر رضي الله عنه "[مسند الإمام أحمد (1/104 رقم: 834)

Bahwasanya Wahab as-sawa-i berkata : berkata Ali –semoga Allah meridhainya- : “ siapakah diantara ummat ini yang terbaik setelah Nabinya?” Maka aku (wahab) berkata:”engkau wahai amirul mukminin”, dia berkata: “Bukan, sebaik-baik ummat ini setelah para Nabinya adalah :Abu bakar, kemudian Umar –semoga Allah meridhainya-, dan kita tidak memungkiri bahwa ketentraman terucap melalui lisan Umar –semoga Allah meridhainya-“ (musnad al-imam Ahmad 1/104 no:834).

Walapun berbeda-beda tingkat keutamaan diantara mereka, akan tetapi mereka semuanya jujur dan terpercaya.

 

2-    Tidak ada satupun dari kalangan orang muhajirin yang tertuduh munafik.

3-    Orang Anshar sampai masa setelah perang badar tidak ada satupun diantara mereka yang tertuduh munafik.

4-    Kemunafikan muncul pasca perang badar dari sebagian penduduk Madinah, ketika kalangan terhormat dan pemuka-pemuka mereka masuk islam, maka sebagian mereka terpaksa menampakkan keislamannya dengan pura-pura karena islam telah jaya dan menonjol diantara kaumnya.

5-    Orang-orang terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang masuk islam setelah penaklukkan makkah, tampak kejujuran dan terpercayanya mereka dari hal berikut :

a-     Rekomendasi langsung dari Allah kepada mereka, dalam firman-Nya :

{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التوبة: 100]

Artinya : “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk islam) diantara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surge-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya ,itulah kemenangan yang besar. (QS. At-taubah : 100)

b-    Rekomendasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:

(( لا تسبوا أصحابي ، فإن أحدكم لو أنفق مثل أحد ذهبا ، ما بلغ مُدَّ أحدهم ولا نصيفَه )) (رواه البخاري :3470 ومسلم :2540)

Artinya : “ Janganlah kalian mencela para sahabatku, karena sesungguhnya jika salah  seorang dari kalian menginfakkan emas seberat gunung uhud pun niscaya (nilainya) tidak akan setara dengan (infak mereka) satu mud ataupun setengahnya.”  (HR. Al-Bukhari no:3470, dan Muslim no:2540)

(( خير الناس قرني ، ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم )) (رواه البخاري :3451 ومسلم :2533)

Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah  (manusia) di abadku, kemudian abad setelah mereka, kemudian abad setelah mereka”. (HR:Al-Bukhari no:3451, dan Muslim no:2533)

c-     Orang-orang yang terdahulu masuk islam dari kalangan muhajirin dan anshar telah bersaksi bahwa orang-orang setelah mereka jujur dan terpercaya.

d-    Lingkungan para sahabat pada waktu itu berada pada lingkungan yang sangat peka dan dengan mudah merasakan tipu daya orang munafik, yang mengintai pergerakan  dan menyerang mereka dalam berbagai peristiwa , sebagai aplikasi dari firman Allah ta’ala :

{هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ } [المنافقون: 4]

Artinya : “ Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka”. (QS.Al-munafiqun : 4)

Sifat-sifat orang munafik disebutkan dalam al-qur’an dengan rinci, hal ini membantu para sahabat (dalam menghadapi mereka), Sampai-sampai orang munafikpun merasa takut dengan sifat-sifat mereka yang disebutkan dalam al-qur’an tersebut.

{يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَنْ تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُمْ بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَا تَحْذَرُونَ } [التوبة: 64]

Artinya : “ Orang-orang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka suatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka : “teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan Rasul-Nya)”, sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.” ( QS: At-taubah : 64 )

Adapun diantara sifat-sifat mereka yang disebutkan dalam Al-qur’an adalah :

{وَلَوْ نَشَاء لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُم بِسِيمَاهُمْ وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِي لَحْنِ الْقَوْلِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ أَعْمَالَكُمْ } (محمد : 30)

Artinya : “ Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya, dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu”. (QS:Muhammad :30)

Disebutkan juga dalam Al-qur’an dengan jelas :

{إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً } )النساء : 142)

Artinya : “ Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan kalau mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali”. (QS-An-nisa : 142)

 

    Selain kedua ayat tersebut, Al-qur’an menyebut mereka dalam berbagai keadaan dan kejadian, menyebut sifat-sifat mereka tanpa mencantumkan nama, karena sifat orang orang munafik di kalangan manusia sama saja sepanjang waktu, maka hendaklah orang-orang mukmin menjauhi sifat tersebut, demikian juga hendaklah mereka mewaspadai makar orang-orang yang besifat demikian.

 

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan kecintaan terhadap kaum anshar sebagai tanda keimanan, dan benci terhadap kaum anshar sebagai tanda kemunafikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan kepada Hudzaifah bin Al-yaman nama-nama orang munafik, maka para sahabat seperti Umar dan yang lainnya tidak menshalatkan (mayat) yang tidak dishalatkan oleh Hudzaifah.

 

Sebagai dalil akan pengetahuan para sahabat terhadap sifat-sifat orang munafik, dan keterangan bahwa mereka  mengetahui sebagiannya, cukuplah dengan dua kisah berikut:

 

Pertama :

 

    Peristiwa berpalingnya Abdullah bin Ubay bin Salul dari pasukan kaum muslimin yang keluar untuk melawan pasukan kaum musyrikin pada waktu perang uhud.

Konon Abdullah bin Ubay bin Salul mempunyai majelis yang dia pimpin setiap jum’at yang tidak bisa di pungkiri, sebagai bentuk penghormatan untuknya dan untuk kaumnya, dan di antara mereka ada orang terkemuka yang apabila telah duduk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berkhutbah dia berdiri sambil berkata : “Wahai manusia, ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di depan kalian, semoga Allah memuliakan kalian dengannya, maka bantulah dan belalah dia, dengar dan ta’atilah dia”, kemudian dia duduk. Sampai terjadilah apa yang dia perbuat pada waktu perang uhud (mundur dari pasukan), kemudian dia pulang dan diapun melakukan apa yang biasa dia lakukan (memimpin majlis), maka orang-orang muslim di sekelilingnya pun menyeret bajunya sambil berkata: “Duduklah wahai musuh Allah, kamu tidak layak melakukan itu setelah apa yang kamu perbuat”, lalu dia keluar melewati orang-orang sambil berkata : ”Demi Allah, semoga apa yang aku ucapkan sebagai ganti perbuatanku yang telah  membebani urusannya (Sirah Ibnu Hisyam 3/46).

 

Kedua :

 

   Kisah shalatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah ‘Utban bin Malik semoga Allah meridhainya karena memenuhi permintaan ‘Utban untuk shalat di rumahnya, supaya dia menjadikan tempatnya sebagai tempat shalatnya dikarenakan penglihatannya sudah lemah, maka para sahabat yang hadir bersamanya saling berbicang-bincang mengenai orang munafik. Imam Nawawi berkata ketika menjelaskan hadits ini dalam shahih muslim : “Mereka menyebutkan keadaan orang-orang munafik dan perbuatan mereka yang jelek dan menyebutkan apa-apa yang para sahabat dapatkan dari orang-orang munafik”. (An-Nawawi fie syarhi muslim 1/243)

e-     Bahwasanya Ali dan Ahlul bait –semoga Allah meridhai mereka- mereka tidak meragukan kejujuran dan keadilan para sahabat, bahkan mereka hidup bersama-sama saling mencintai dalam persaudaraan.

f-      Mencintai ahlul bait dan menghormati mereka itulah yang diajarkan oleh para sahabat –semoga Allah meridhai mereka- kepada kita, pantaskah balasan mereka dari orang yang mengaku benar-benar mencintai ahlul bait dengan mengingkari kejujurannya dan malah  menuduh mereka munafik?!

g-     Bagaimana mungkin taufik diberikan bagi orang yang tidak terpercaya?! dan bagaimana mungkin hati mereka sebanyak itu di kumpulkan di atas satu syari’at, menjunjung kesuciannya ketika berdakwah (mengikuti) Nabi mereka, dan hal ini terus berlanjut sampai setelah kematiannya?! Kenapa mereka tidak meninggalkan hal ini setelah Nabi mereka meninggal?

 

Dan mungkin kita pun bertanya :

 

Apakah perbedaan pendapat yang terjadi di kalangan para sahabat –semoga Allah meridhai mereka- berakibat keraguan akan kejujuran mereka dan mengklaim mereka  munafik?

Jawabannya adalah :

Para ulama menyampaikan tentang ma’shumnya para nabi –‘alaihimussalam-, adapun selain mereka baik dari kalangan para shiddiqin, syuhada dan shalihin tidaklah ma’shum akan tetapi mereka juga berbuat salah lalu Allah mengampuni mereka dengan sebab taubat yang benar-benar dan beristighfar, serta diikutinya dosa tersebut dengan kebaikan-kebaikan, dan cobaan yang yang menimpa di dunia, dan para sahabat juga bertambah semangatnya dalam berjihad dan membela islam.

Ini dalam perkara yang di sengaja, adapun jika dalam keadaan berijtihad dan dia meyakini kebenarannya, maka yang benar dari mereka mendapatkan dua pahala; pahala ijtihad dan  pahala karena dia benar , sedangkan bagi yang salah mendapatkan pahala ijtihad saja.

Inilah yang sepatutnya kita bersikap ketika terjadi fitnah diantara sahabat, dan perlu di ketahui bahwasanya kebanyakan para sahabat menghindari fitnah tersebut.

Apakah termasuk adil jika dikatakan bahwa setiap yang salah itu berdosa?! Dan aplikasinya itupun ditujukan ketika terjadi fitnah diantara para sahabat, lalu hal itu dijadikan alasan untuk mengklaim ketidak adilan mereka serta menuduh mereka munafik dan kufur?!

Di sebutkan dalam Al-qur’an bahwasanya peperangan antar orang mukmin tidak membuat mereka keluar dari iman, Allah ta’ala berfirman :

‏{ ‏وَإِن طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا فَإِن بَغَتْ إِحْدَاهُمَا عَلَى الْأُخْرَى فَقَاتِلُوا الَّتِي تَبْغِي حَتَّى تَفِيءَ إِلَى أَمْرِ اللَّهِ فَإِن فَاءتْ فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا بِالْعَدْلِ وَأَقْسِطُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ  (9)إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (10)  ‏}‏ ‏[‏الحجرات‏:‏ 9، 10‏]

Artinya : “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya, jika salah satu dari golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah, jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah) maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (9) Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat (10)”. (QS. Al-hujurat : 9-10)

Allah menjadikan kaum mukmin bersaudara walaupun dengan adanya peperangan dan aniaya, bahkan dengan perintah-Nya untuk memerangi golongan yang berbuat aniaya tetap menggolongkan mereka termasuk orang mukmin.

وقال صلى الله عليه وآله وسلم عن الحسن رضي الله عنه : ( ابني هذا سيد ولعل الله أن يصلح على يديه بين فئتين عظيمتين من المسلمين ) (رواه الإمام أحمد في مسند البصريين)

Artinya : “Rasuullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang Al-hasan –semoga Allah meridhainya- : “Anakku ini adalah seorang pemuka, mudah-mudahan Allah mendamaikan melalui dia dua golongan besar dari kaum muslimin”. (HR: Imam Ahmad dalam musnad Al-bashriyyin).

Beliau menyebut kedua golongan tersebut adalah (golongan) kaum muslimin. (Fatwa syaikhul islam Ibnu Taimiyyah bab : Al- khilafah wa al-mulk).

Jadi, tidak semua golongan yang aniaya, zhalim dan memusuhi itu mengeluarkan mereka dari keimanan, dan tidak boleh melaknat mereka, maka bagaimana mungkin mengeluarkan (keimanan) dari orang yang berada pada generasi terbaik?!

 

Penutup :

 

Sesungguhnya ahlussunnah mengakui kejujuran para sahabat, dan

tidak membolehkan untuk menjelek-jelekkan mereka, tidak menggolongkan mereka termasuk orang-orang yang ma’shum (luput dari kesalahan), dan kejujuran mereka terpancar dari keimanan  yang kuat sehingga dapat memfilter mereka dari kelancangan untuk berdusta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Maka, bagi segenap orang yang mencoreng kejujuran para sahabat –semoga Allah meridhai mereka- dan menuduh mereka munafik, juga mengklaim mereka kafir, kami kemukakan hal berikut :

-         Tidak  puaskah engkau dengan rekomendasi dari Allah ta’ala kepada mereka?!

-         Tidakkah engkau ridha dengan rekomendasi dari Rasulullah kepada mereka, serta pesan-pesannya (untuk mengikuti) mereka?!

-         Tidak berbekaskah padamu pujian serta rasa cinta ‘Ali –semoga Allah meridhainya- kepada mereka?!

Aku harap engkau berfikir sembari mengosongkan semua yang engkau dengar dari hal yang menjatuhkan mereka –semoga Allah meridhai mereka- kemudian renungkanlah hal berikut :

1-    Bahwasanya orang-orang munafik, mereka yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekufuran tidak mungkin meriwayatkan sesuatu dari agama yang mereka benci dan tidak mereka sukai lalu kemudian menyampaikannya kepada orang-orang.

2-    Sungguh Allah ta’ala menjanjikan akan menjaga agama-Nya, mungkinkah Allah mempercayakannya kepada orang-orang munafik, demi Allah ini tidaklah mungkin! Semua orang yang memiliki akal pasti mengetahui bahwasanya hal demikian tidak mungkin dilakukan oleh orang yang berakal, bagaimana mungkin- hal tersebut bisa terjadi- dari Allah ta’ala?!

3-    Ambil saja misalnya , bila orang-orang munafik meriwayatkan suatu hadits, maka apa yang meraka riwayatkan tersebut bisa jadi sesuai dengan Al-qur’an dan riwayat yang lain , dan bisa juga bertentangan. Jika sesuai maka tidak diragukan lagi kebenarannya, adapun jika bertentangan maka kami menetapkan kebathilannya.

Kami akhiri (tulisan ini) dengan pertanyaan besar, yaitu :

Sungguh kami beriman bahwasanya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- itu benar, dan Al-qur’an itu benar, dan Al-qur’an  serta sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihiwa sallam- (bisa) sampai kepada kita dengan perantaraan para sahabat –semoga Allah meridhai mereka- maka, apakah kalian ingin menodai persaksian kami, dan membatalkan Alquran dan sunnah?!

Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaithan yang terkutuk :

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الفتح: 29]

Artinya : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya mereka kerasterhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih saying sesama mereka, kamu melihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam taurat, dan siat-sifat mereka dalam injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus diatas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan yang mengerjakan amal shaleh diantara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS:Al-fath : 29)